TANTANGAN MENGHIASI DIRI DENGAN 4 AKHLAK TERPUJI

999081_597555206970654_2084631849_n1. MEMAAFKAN KETIKA MARAH

Marah merupakan tabiat manusia. Karena itu, Islam tidak melarang manusia untuk marah. Bahkan dalam islam, ada marah yang nilainya ibadah. Itulah marah karena membela syariat Allah. Seperti yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Allah Memuji Orang Yang Bisa Menahan Marah.
Di surat Ali Imran, Allah menyebutkan beberapa kriteria orang yang bertaqwa. Diantara yang Allah sebutkan adalah:

“…dan orang-orang yang menahan amarah dan suka memaafkan orang lain.” (QS. Ali Imran: 134)

Kita memahami bahwa sifat baik yang ada pada diri orang yang bertaqwa sangatlah banyak. Namun sifat baik yang Allah puji dalam ayat ini salah satunya adalah menahan amarah. Ini menunjukkan bahwa sifat ini memilliki nilai yang begitu istimewa di sisi Allah.

Karena menahan amarah membutuhkan usaha yang sangat kuat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut orang yang mampu menahan amarah sebagai orang kuat. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Orang hebat bukanlah orang yang selalu menang dalam pertarungan. Orang hebat adalah orang yang bisa mengendalikan diri ketika marah.” (HR. Bukhari & Muslim)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menjanjikan, mereka yang berusaha menahan amarahnya, padahal mampu meluapkan marahnya, akan Allah banggakan di depan seluruh makhluk dan Allah suruh memilih bidadari paling indah yang dia inginkan. Subhanallah! Dari Muadz bin Anas Al-Juhani radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Siapa yang berusaha menahan amarahnya, padahal dia mampu meluapkannya, maka dia akan Allah panggil di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat, sampai Allah menyuruhnya untuk memilih bidadari yang dia kehendaki. (HR. Abu Daud, Turmudzi, dan dihasankan Al-Albani).

2. KEDERMAWANAN DI MASA SULIT

Di masa sulit terkadang kita ragu dan seringkali urung untuk berderma/bersedekah. Namun ketauhilah justru sedekah jauh lebih menjadi afdhol bila si pemberi sedekah berada dalam keadaan khawatir menjadi miskin/ sulit. Hal ini tidak mempengaruhi dirinya. Ia tetap berkeyakinan bahwa bersedekah dalam keadaan seperti itu merupakan bukti ke-tawakkal-annya kepada Allah.

Ia sadar bahwa jika Allah kehendaki, maka mungkin sekali dirinya menjadi kaya atau menjadi miskin. Itu terserah Allah. Yang pasti keadaan apapun yang dialaminya tidak mempengaruhi sedikitpun kebiasaannya bersedekah.

Perhatikan firman Allah:

”… yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit.” (QS. Ali Imran: 133-134)

Terdapat suatu kisah menarik dan mengharukan dari shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, Ali bin Abi Thalib r.a. Suatu hari Ali bin Abi Thalib mendapati kedua anaknya, Hasan dan Husain, sakit yang cukup lama sehingga Ali pun bernazar, “Jika Hasan dan Husain sembuh, aku akan berpuasa selama tiga hari”. Rupanya Allah mendengar nazar Ali tersebut hingga Hasan dan Husain pun sembuh.

Ali bin Abi Thalib bersama isterinya, Fatimah Az Zahra, pun berpuasa. Menjelang tiba waktu berbuka di hari pertama, hanya tersedia dua potong roti untuk makanan berbuka. Ketika waktu berbuka tiba, belum lagi keduanya menyantap roti tersebut, datang seorang fakir miskin yang mengetuk pintu mereka seraya meminta makanan lantaran perutnya belum terisi sejak beberapa hari. Urunglah Ali dan Fatimah melahap roti yang sudah digenggamnya, mereka pun meneruskan berpuasa hingga keesokan harinya.

Di hari kedua berpuasa, mereka pun hanya memiliki sepotong roti untuk dimakan berdua pada waktu berbuka nanti. Seperti halnya hari kemarin, tiba saatnya berbuka, pintu pun kembali terdengar diketuk seseorang. Rupanya seorang anak yatim yang meminta makanan karena kelaparan. Tak kuasa menahan iba, Ali pun memberikan sepotong roti itu kepada anak yatim itu. Keduanya kembali berpuasa.

Ujian memang selalu diberikan Allah kepada orang seperti Ali dan Fatimah. Bahkan di hari ketiga berpuasa pun, sepotong roti yang mereka punya pada saat menjelang berbuka ikhlas mereka berikan kepada seorang tawanan yang baru saja bebas namun tak mempunyai makanan. Ali, Fatimah, dan kedua anaknya, Hasan dan Husain mengerti bahwa semua ini hanyalah ujian kesabaran dari Allah.

Sebuah pelajaran yang teramat mengharukan dari keluarga Ali bin Abi Thalib dan keluarganya yang penyabar. Betapa Allah tengah menguji mereka, akankah mereka tetap beriman dan mau menyedekahkan rezeki milik mereka kepada orang lain, meskipun mereka teramat membutuhkan. Bahkan kisah ini Allah lukiskan dalam Al-Quran agar menjadi pelajaran bagi kebanyakan manusia.

“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan.” (QS. Al-Insaan: 8-10)

3. KESUCIAN SAAT KESENDIRIAN

Kita yang sebelumnya berhati-hati jika sedang kumpul bersama orang-orang, saat kita sendirian justru bisa lebih berani. Saat itu kita bisa melakukan apapun yang kita mau tanpa diketahui orang lain, dan ini menjadi sebuah cobaan yang amat berat.

Sungguh takwa kepada Allah dalam keadaan tidak nampak (fil-ghaib) dan takut kepada-Nya dalam keadaan tersembunyi merupakan tanda kesempurnaan iman. Hal ini menjadi sebab diraihnya ampunan, kunci masuk surga. Dan dengannya, seorang hamba meraih pahala yang agung nan mulia.

Perhatikan firman Allah:

“Sesungguhnya kamu hanya memberi peringatan kepada orang-orang yang mau mengikuti peringatan dan yang takut kepada Rabb Yang Maha Pemurah walaupun dia tidak melihat-Nya. Maka berilah mereka kabar gembira dengan ampunan dan pahala yang mulia”. (QS. Yasin: 11)

“Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Tuhan mereka dalam keadaan tersembunyi akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar”. (QS. Al-Mulk: 12)

“Dan didekatkanlah surga itu kepada orang-orang yang bertakwa pada tempat yang tiada jauh (dari mereka). Inilah yang dijanjikan kepadamu, (yaitu) kepada setiap hamba yang selalu kembali (kepada Allah) lagi memelihara (peraturan-peraturan-Nya). (Yaitu) orang yang takut kepada Rabb Yang Maha Pemurah dalam keadaan tersembunyi dan dia datang dengan hati yang bertobat. Masukilah surga itu dengan aman, itulah hari kekekalan. Mereka di dalamnya memperoleh apa yang mereka kehendaki; dan Kami memiliki tambahannya”. (QS. Qaf: 31-35)

Dan di antara doa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah:

أَسْأَلُكَ خَشْيَتَكَ فِى الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ

“Aku memohon rasa takut kepada-Mu dalam keadaan tersembunyi maupun nampak”. (HR Ahmad, 18351 dan dishahîhkan Syaikh al-Albâni)

Maknanya, hendaklah seorang hamba takut kepada Allah dalam keadaan tersembunyi maupun nampak, serta lahir dan batin, karena kebanyakan orang takut kepada Allah dalam keadaan terlihat saja. Namun yang penting adalah takut kepada Allah saat tersembunyi dari pandangan manusia, dan Allah telah memuji orang yang takut kepada-Nya dalam kondisi demikian.

4. BICARA KEBENARAN DALAM KETAKUTAN

Ini merupakan salah satu tantangan besar yang dihadapi orang beriman untuk menyampaikan kebenaran dalam rangka menasehati. Tidak jarang mereka diejek, dipermainkan, dianggap pembual, didebat dengan kebathilan, dituduh menipu daya, difitnah, dibenci, dimusuhi, dilarang berdakwah, dituduh sesat, dituduh memecah belah umat, dituduh teroris, diancam nyawanya, bahkan disiksa agar menjadi kafir.

Al Imam Ahmad dan yang lainnya meriwayatkan dari Abu Said Al Kudriy, bahwa Rasulullah saw berkata:

“…Ketahuilah jangan sekali-kali rasa takut kepada manusia menghalang seseorang diantara kalian dari mengucapkan dengan kebenaran bila dia melihatnya atau menyaksikannya, karena mengucapkan kebenaran itu atau menyebutkan hal besar itu tidak mendekatkan ajal dan tidak menjauhkan dari rizki”…

Perhatikan juga firman Allah:

“(Yaitu) orang-orang (yang mentaati perintah Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan:`Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka`, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab:`Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.`” (QS. Ali Imran: 173)

“Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah syaitan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya, karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepadaKu, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (Q.S Al-Imran : 175)

Demikian walaupun sulit, semoga kita semua bisa menghiasi diri kita dengan akhlak-akhlak terpuji tersebut, semoga bisa ikhtiar dan istiqomah untuk meraihnya.

Semoga bermanfaat

Ref:
http://www.konsultasisyariah.com/doa-ketika-marah/
https://www.facebook.com/notes/infaq-bikin-kaya/sedekah-yang-paling-afdhol/479106385611
https://www.facebook.com/notes/yusuf-mansur-network/kisah-ali-bin-abi-thalib-keluarga-bersedekah-dikala-sulit/10150397013635210
http://almanhaj.or.id/content/2719/slash/0/mengawasi-diri-sendiri/
http://www.arrahmah.com/read/2012/11/05/24497-ujian-rintangan-dan-ancaman-dakwah.html
http://www.arrahmah.com/read/2011/12/01/16621-tazkiyatun-nafs-agar-tetap-teguh-di-atas-jalan-kebenaran.html#sthash.pHwUMOSN.dpuf
http://tafsir-ali-imran.blogspot.com/2013/05/tafsir-surah-ali-imran-173.html
http://bulletinmustaqim.blogspot.com/2012/07/kepada-siapa-kita-harus-takut.html

Iklan

Tentang novrizalbinmuslim

teacher
Pos ini dipublikasikan di Pendidikan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s